MAHASISWA DALAM BINGKAI POTRET NEW NORMAL

0
78

Perspektif | newskabarnegeri.com – RogerMcNamee merupakan seorang investor teknologi sekaligus pemusik Amerika yang pertama kali menggunakan istilah “New Normal atau Kenormalan Baru”. Istilah tersebut menggambarkan sebuah kondisi di mana kalian berada pada aturan baru untuk jangka panjang. Kondisi tidak normal menjadi kondisi yang tampak biasa. Pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara termasuk Indonesia telah mengubah kehidupan sosial masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya kehidupan sosial dalam potret aktivitas keseharian mahasiswa.

Perubahan perilaku sosial mahasiswa dalam berinteraksi ketika menjalin kontak antarteman dan dosen menyajikan pemandangan berbeda. Tak tampak lagi telapak tangan saling bersentuhan mengucap salam. Senyuman, sapaan, dan pandangan berjarak 1 hingga 2 meter menjadi pengganti salam terbaik berbalut ‘face mask’. Aktivitas bimbingan, diskusi, belajar dan mengajar pada ruang realitas berpindah menuju ruang digital. ‘Ruang virtual’ berbatas layar komputer dan ‘gadgets’, serta berteman konektivitas internet menjadikan ruang utama untuk keberlangsungan aktivitas dan interaksi.

Potret 1. Aktivitas Belajar Mengajar di Ruang Virtual

Konsep ‘Internet of Things (IoT)’ dengan pemanfaatan konektivitas internet secara luas dan terus menerus sebagai ‘remote control’ aktivitas dan interaksi mejadi ‘segalanya’. Data dibagi dan direpresentasikan secara virtual berbasis internet. IoT sebagai hasil dari teknologi membantu aktivitas mahasiswa dan dosen menjadi lebih mudah dan praktis. Gadget atau gawai sebagai salah satu media IoT yang bersifat ‘portable’ dan berukuran kecil memudahkan aktivitas interaksi dapat berlangsung di mana saja.

Potret 2. Pengiriman Data di Ruang Virtual

Potret 1 dan 2 menyuguhkan pemandangan yang menjadi tampak biasa dalam aktivitas keseharian mahasiswa di kampus. Penggunaan ‘Google Classroom’ berbasis internet sebagai ‘online learning platform’ menjadi salah satu contoh pemanfaatan ‘Google Apps’ di bidang pendidikan. Subjek mata kuliah disajikan secara ‘side by side’ dan ‘step by step’ pada layar membangun interaksi transformatif antara mahasiswa dan dosen. Data berupa ‘TXT, PDF files’ dan sebagainya dapat diunduh dan digunakan kembali tanpa batas waktu.

Pengaturan belajar dan mengajar pada ruang kelas virtual membantu mahasiswa dan dosen saling berkolaborasi menciptakan interaksi komunikasi menjadi lebih baik dan produktif. Pemberian, penyelesaian, dan penyerahan tugas berlangsung cepat, teratur, dan tanpa menggunakan kertas sebagaimana tergambar pada potret (3).

Potret 3. Pemberian Tugas di Ruang Virtual

Hal itu tentu menunjukkan efisiensi kebermaknaan. Beberapa kebermaknaan ruang kelas virtual dapat disimpulkan sebagai berikut,
(1) Tugas terintegrasi secara mudah dan sederhana
(2) Aktivitas belajar dan mengajar menjadi dapat dilakukan di mana dan kapan saja
(3) Platform pendidikan bersifat ‘free’ memberikan standar keamanan yang baik dan tanpa biaya
(4) Kemajuan dan perkembangan dalam proses belajar mengajar dapat diketahui gambaran kapan dan di mana fokus alur kerja sedang berlangsung.

Kesimpulan (1) hingga (4) memberikan penegasan bahwa tidak ada hal yang sulit dalam menjalani sebuah tatanan kehidupan baru. Kondisi baru akan memberikan hal-hal baru pada sebuah inovasi. Kegiatan belajar mengajar di ruang virtual dapat menjadi alternatif pengembangan pembelajaran dengan menggali potensi individu yang terlibat yaitu mahasiswa dan dosen.

Potret 4. Tatap Muka Langsung ‘Coaching’ dengan Protokol Kesehatan
Potret 5. Tatap Muka Pemberian ‘Coaching’ di Ruang Virtual

‘Physical distancing’ dengan menjaga jarak antara mahasiswa dan dosen sebgaimana potret (4) dan (5) di atas, tetap dapat dilakukan tanpa meghalangi pelaksanaan ‘coaching’ secara daring di ruang virtual. Mahasiswa berada di tempat berbeda pada saat tatap muka atau tatap muka dilakukan secara langsung dengan memperhatikan protokol kesehatan. Hal itu kemudian menimbulkan kesadaran untuk semakin peduli terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan. “Disiplin” kepada diri sendiri menjadi kunci transformasi menata perilaku. Protokol kesehatan diterapkan di lingkungan kampus membangun perilaku baru untuk menjadi sebuah kebiasaan yang membentuk karakter mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari sebuah budaya baru di masa new normal. (Vera Yulia Harmayanthi)

Tinggalkan Balasan