Politisi Gerindra Duga Program E-Warong Proyek Bancakan Segelintir Oknum Pemangku Kebijakan

0
46

Semarang | newskabarnegeri.com – Program E-Warong yang di buat sebagai tempat Keluarga Penerima Manfaat (KPM) memanfaatkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau Program Sembako kembali di kritik, kali ini Program tersebut dinilai sebagai proyek bancakan bagi segelitintir oknum.

Kritikan tersebut diungkapkan Anggota Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid. Menurutnya, E-Warong tidak sesuai dengan apa yang diharapkan masyarakat penerima Bansos.

Karena itu, politisi Partai Gerindra ini meminta Mensos Risma melakuan evaluasi program E-Warong yang di desain menyediakan bahan kebutuhan pokok.

“Harga sembako di aplikasi itu jauh dari kata murah. Jelas ini memberatkan para penerima Bansos,” ucap Abdul Wachid, Jumat (20/08/2021), dikutip dari suaramerdeka.com.

Padahal, lanjut Wachid begitu ia disapa, dengan adanya program tersebut diharapkan bisa meringankan beban para penerima bansos.

“Kenyataannya justru para penerima Bansos mengeluhkan dengan harga-harga Sembako yang ada di E-Warong itu. Harga sembako di E-Warong jauh lebih mahal ketimbang harga di warung eceran,” kata Ketua DPD Partai Gerindra Jateng ini.

Wachid menduga, mahalnya harga Sembako di aplikasi tersebut karena tidak adanya sistem kontrol yang memadai dari Kemensos.

“Gak ada kontrol yang jelas. Pada akhirnya program E-Warong seperti proyek bancakan segelintir oknum pemangku kebijakan,” paparnya.

“Bayangkan misalnya selisih harga di E-Warong dengan di warung biasa itu cukup besar. Lalu sisa saldo para penerima bansos juga mengendap dan gak jelas kemana larinya,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan