LBH Pilar Nusa Bogor Dampingi Korban Penipuan Investasi Cryptocurrency Bodong

Bogor | newskabarnegeri.com

Alangkah malang nasib Heri Supendi (HRS) yang tergiur dengan Bisnis Investasi Cryptocurrency mirip Bitcoin, bagai mana tak tergiur melalui Aplikasi dan Website Crypto Mining Biz, USDT Hunter dan MetaTrader 4, dirinya dijanjikan mendapatkan untung berlipat ganda berupa Mata Uang Kripto Ethereum (ETH) dan Tether (USDT) dengan nilai Rupiah Ratusan Juta, belakangan diketahui bahwa ternyata aplikasi tersebut Bodong alias tak Berizin.

Lucunya HRS yang harusnya sebagai Korban malah disomasi oleh Pihak HA yang membujuknya mengikuti Investasi 3 Aplikasi tersebut dengan nilai Investasi Rp. 144 Juta, HA Warga Kampung Kebon Kopi RT.01/RW.04 Desa Ciampea Kecamatan Ciampea, yang kini berkediaman di rumah kontrakan RT.03 RW.12 Desa Bantar Jaya, Kecamatan Racabungur, Kabupaten Bogor ini melayangkan somasi melalui Kantor Hukum Hadi Darussalam, SH dan Parthner.

Baca Juga :  Puluhan Wartawan Dampingi Hero & Dody Penuhi Panggilan Polresta Bogor



Menanggapi hal itu HRS segera melaporkan hal yang menimpanya kepada Pihak Penegak Hukum dalam hal ini Polresta Bogor Kota dan juga LBH Pilar Nusa Bogor yang di ketuai Kusnadi SH, MH, CPL, Arif Triono, SH bersama 6 Paralegal.

“Ini berpotensi adanya dugaan penipuan dan penggelapan karena ada janji disitu bahwa aplikasi ini bisa mendapatkan keuntungan, jadi kami selaku Kuasa Hukum dari sodara HRS ketika Beliau mendapatkan Somasi dari yang bersangkutan justru merasa aneh, dalam artian sesungguhnya kan klien kami ini yang sebenarnya adalah korban, dari pihak HA,” kata Kusnadi selaku Kuasa Hukum HRS, Sabtu (19/12/2020).

Baca Juga :  Kemeriahan MTQ Tingkat Kec. Tenjo Ke XLII

Kusnadi juga mengatakan seharusnya pihak HA lebih koperatif akan hal ini, jangan sampai ada pihak-pihak lain yang pada ujungnya jadi merugikan masyarakat banyak dengan, tawaran-tawaran terkait aplikasi ini. Apalagi saat ini di masa krisis dampak dari Pandemi Covid-19.

“Kami selaku Kuasa Hukum akan terus melakukan pendampingan, karena diduga aplikasi ini, justru bisa merugikan masyarakat banyak,” tegas Kusnadi. (Randi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *