Ini Tanggapan TKSK Ciomas Terkait Pernyataan Agen Yeti

0
7

Bogor, Kabar Negeri

Menanggapi pernyataan Agen/E-Warung Penyalur BPNT Atas nama Yeti, di Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, yang di Tayangkan newskabarnegeri.com pada 17 September 2019 dengan judul E-Warung & Supplier Ditunjuk TKSK, Yeti : Saya Cuman Kebagian Sedikit, Rp. 500/Karung, Tenaga Kesejahtraan Sosial Kecamatan (TKSK) Ciomas, Ujang Ahmad Hutomi memberikan penjelasan terkait hal tersebut, Selasa (17/09/2019)

“Terkait bahwa yang menunjuk Agen adalah TKSK itu adalah kesalah pahaman, yang menentukan Agen bukan saya tapi Desa ini bukti suratnya,” tutur Ujang sebari menunjukan surat rekomendasi yang ditandatangani Kepala Desa setempat.



Dalam kesempatan tersebut Ujang juga mengatakan, yang menentukan supplier juga bukan dirinya, bahwa yang membawa Supplier Kabupaten Bogor menurutnya adalah orang dinas, “saya tidak tahu, entah di TKSKnya ada Edi Sukarya, Ada Iye saya gak tahu, yang pasti jauh sebelumnya saya pernah bertemu dengan Ibu Aam, tapi bukan kapasitas sebagai TKSK Kabupaten Bogor dan saya gak ada deal-dealan dengan Bu Ayu, membawa Bu Ayu ke Kabupaten Bogor,” katanya.

Ujang juga melanjutkan, bahwa hal tersebut sudah diproklamirkan sendiri oleh Edi Sukarya bahwa dia lah yang memperkenalkan PT. Aam ke Kabupaten Bogor. “Ketika orang dinas Rame-rame ke PT. Aam dan wilayah selatan dan barat ke PT. Aam, atas nama kekeluargaan masa saya tidak ikut ?,” tuturnya.

Ujang juga menjelaskan Ketika MOU dangan PT. Aam 10 agen dari Ciomas, itu ada MOU yang Agen tandatangani, antara PT. Aam sebagai distributor dan para agen sebagai penyalur, disitu disepakati bersama bahwa Rp. 4000/satu karung/KPM/satu kali transaksi.

“Kestra (Red-Kepala Seksi Kesejahtraan Rakyat Desa) pun ikut hadir, itu Bu Ayu pun bertanya ‘sudah ya sudah selesai dengan saya 4000’, sambil memegang pundak saya didepan para Agen ‘iyeu kumaha TKSK’, dan demi Allah saya jawab ‘bu saya butuh uang lebih banyak dari ini, jadi kasian kalo Agen harus ngasih lagi ke saya.

Tapi, dari BLT, dari BLSM, dari Raskin berlanjut ke Rastra yang tidak ada sama sekali nilai uangnya, sekarang BPNT di Swatakan baru ada uangnya, ada teman-teman Kestra dibelakang para agen yang bantuin saya, yang bantuin TKSK yang bantui Kecamatan, saya titip Kestra, itu yang saya bilang, mungkin kurang lebih saya juga tidak hafal detil yang pasti saya ngomong gitu.

Dan agen lima menit kemudian setelah Bu Ayu pamit bertanya ‘a harus berapa buat kestra,’ saya jawab bukan urusan saya, silahkan bicarakan dan sesuaikan dengan jumlah KPM yang berhasil transaksi,” katanya.

Ujang juga menjelaskan terkait uang yang diberikan agen/E- Warung, dirinya mengakui sudah dua kali menerimanya, pertama seminggu setelah penyaluran beras, saat selesai evaluasi dan silaturahmi di gedung BPD Desa Mekarjaya.

“sebelum saya pulang itu ada yang menitipkan amplop di bawah tempat saya sila, itu Teh Epon yang mengkomandoi. Karena Teh Epon ini, dia punya warung dia juga koordintor kader di Desa Ciomas, dan dia juga mengurus Peserta PKH juga, dia juga zaman Raskin Rastra sudah bantu desa jadi sudah paham banget,” katanya.

Ujang juga melanjutkan penjelasan bahwa sesampainya dirumah amplop itu Ia buka ternyata berjumlah Rp. 350.000, namun saat itu dirinya mempunyai janji kepada rekan di Kabupaten Sukabumi, yang akan menghidupkan pasantren yang sudah lama ditinggalkan oleh kakeknya.

“Videonya juga saya sebar di Agen, saya belikan Kompor Gas Rinai seharga 297.000, saya belikan juga selang sambungnya 70.000, saya belikan juga tabung gas di pom bensin Pertamina 150.000, saya berikan juga kastrol yang bisa masak 10 liter, saya belikan beras 25 kg seharga 240.000, saya belikan juga satu dus mie instan.

Saya belikan juga satu kemasan minyak sayur 2 liter dan saya serahkan ke pasantren Darul Mutaalimin di Kecamatan Sukaraja Sukabumi. Saya bilang ke santri tolong saya rekam, bilang kepada teman-teman pak Tomi di Bogor terimakasih pemberiannya semoga tambah berkah,” jelasnya.

Selanjutnya Ujang untuk kedua kalinya menerima uang dari Agen sekitar seminggu kebelakang, saat itu pihaknya bersama Agen sedang merespon terkait adanya isu dilapangan, bahwa akan dibagi dua agen itu imbas dari pak H. Rustandi selaku kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor.

“Saat itu saya mengumpulkan para agen di salah satu cafe, sambil ngopi sore, itu kopinya pun saya yang bayar, habis sekitar Rp. 300.000 an, kopi makan, karena ada 10 agen yang saya kumpulkan, diparkiran motor mereka ngasih uang masukin ke rompi saya ini, saya bilang saya gak mau uang ini dan Bu Beti yang dari Kota Batu jawabnya begini ‘sanes pikeun aa, pikeun nu di bumi we’, saya ambil,” katanya.

Ujang melanjutkan, sesampainya dirumah Ia menelepon panitia saren taun di wilayah Sinangbarang, dan itu adalah upacara keagamaan bukan hanya upacara adat, menurutnya.

“Saya kasih kabar ke mereka teman-teman Agen, uang yang tadi Rp. 250.000 yang saya dapat, saya sudah kasih ke panitia Muharam, peringatan Muharam di Kampung Sinangbarang, hatur nuhun semoga tambah barokah, begitu kalo bicara soal uang,” jelas Ujang.(Randi/Heri)

Tinggalkan Balasan