Celaka Saat HUT RI 74, Posko Kemanusiaan PWRI DPC Kab. Bogor Dampingi Korban

0
3

Bogor, Kabar Negeri

Melihat kondisi Fahri dan keluarga yang tidak mampu pihak Ketua RT.01/RW.03 memohon kepada Posko Kemanusiaan PWRI DPC Kabupaten Bogor agar dapat bantuan proses pengurusan Administrasi baik di Rumah Sakit maupun BPJS, dengan harapan PWRI dapat membatu hal tersebut.

“Kami dari PWRI DPC Kabupaten Bogor akan terus mendorong agar pihak Rumah Sakit tidak terlalu mendesak pihak keluarga, kami juga meminta kepada BPJS agar lebih mengedepankan nilai kemanusiaan, karena ini adalah keluarga tidak mampu,” tutur Ketua DPC Kabupaten Bogor, Rohmat Selamat.SH.Mkn, Selasa (20/08/2019).



Semua Bermula saat Fahri terjatuh sehingga membuat keluarga panik dan langsung membawa Fahri ke Kelinik 24 jam Cibanteng untuk menerima pertolongan pertama, namun karena minimnya alat dan dinilai perlu penanganan lebih intes disebabkan luka dalam yang dialaminya cukup serius, pihak kelinik menyarankan untuk segera di bawa ke rumah sakit.

Akhirnya pihak keluarga segera membawa Fahri ke RS Medika Dramaga, namun karena pihak RS Medika Dramaga menurut keterangan pihak keluarga sudah tidak menerima pasien BPJS, pihak keluarga berinisiatif membawa Fahri ke RSUD Leuwiliang dengan harapan dapat di berikan tindakan medis dan pembiayaan yang murah.

Setibanya di RSUD Leuwiliang dan diberikan tindakan medis menurut keluarga pihak RSUD Leuwiliang kembali merujuk Fahri ke tiga rumah sakit, karena di RSUD Leuwiliang tidak ada dokter khusus saraf. Akhirnya pihak keluarga memilih ke RSUD Cibinong.

“Setelah tiba di RSUD Cibinong berhubung karena data-datanya tidak lengkap pada saat itu, tidak bawa KK ketinggalan, jadi lama menindak lanjutinya, tapi kemudian langsung ada tindak lanjutnya. Nyampe di RSUD Cibinong sekitar Pukul 10.00 WIB, lalu ditanganinya setelah KK dan persyaratan administrasinya sudah lengkap baru masuk infus semau jalan, Jangka waktunya ada sekitar 30 menit,” kata Erik, keluarga Fahri (35), Selasa (20/08/2019).

Erik juga mengatakan yang dimaksud dengan administrasi itu selain KK dan KTP juga termasuk biaya pendaftaran, ” terus ditanyai apakah sudah dapat ruangan, kita jawab sudah terus semua berjalan normal, setelah ditangani langsung masuk ruang ICU, ya langsung dioperasi besoknya Senen,” tutur Erik.

Erik juga mengatakan bahwa saat ini kondisi keluarga Korban Fahri kesulitan secara ekonomi, karena Ayah Fahri hanya buruh serabutan dan ibunya pun hanya ibu rumah tangga biasa, terlebih kini pihak keluarga harus melunasi biaya pengobatan Fahri sebesar Rp. 32 Juta dengan jangka waktu sampai hari Rabu (21/08/2019), walau pun memang sudah dibantu oleh Jamkesda melalui dinas Sosial sebesar Rp. 7 Juta.

Menanggapi itu pihak keluarga sebelumnya pada hari Senin (18/08/2019) mengurus pembuatan BPJS, namun karena BPJS memiliki aturan pendaftar akan aktif setelah 14 hari kerja pihak keluarga kembali mengalami kesulitan, disamping itu Ayah dan Ibu Fahri sebelumnya sudah memiliki BPJS KIS tapi anehnya Fahri sendiri tidak terdaftar dan tidak memiliki kartu tersebut.(Heri)

Tinggalkan Balasan