Polemik Koperasi Kelola Hutan TNGHS II

0
2

Bogor, Kabar Negeri

Objek Wisata Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) II yang terletak di wilayah Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor Dinilai Pengelolaannya tidak transparan.
Pasalnya Dua Unit Badan Hukum (Koprasi) yang mengelola kawasan tersebut dari awal terbentuk nya pun terkesan terselubung dari sepengetahuan masyarakat, kini diduga pengelolaanya tidak jelas sehingga menuai perotes dari warga sekitar.

NA (48) Warga RT 02/ RW 02 Desa Gunungbunder 2 membenarkan hal tersebut, menurutnya berdiri Dua Koperasi yang mengelola Objek Wisata di kawasan TNGHS II sudah hampir satu tahun, namun saat perencanaan hingga berdirinya Koperasi itu luput dari pantaun warga Desa Gunungbunder 2

“Terkesan terselubung, awal berdirinya kita gak tahu, mengingat saat perencanaan hingga berdirinya Koperasi, perwakilan warga dari 7 Rw dan 42 Rt tidak dihadirkan,” ujarnya, Minggu (05/05/2019).

Selain itu NA juga mengkeritisi kebijakan TNGHS II, menurutnya dengan dipungsika nya taman nasional menjadi objek wisata itu bertentangan dengan aturan, mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan Taman Nasional yang seharusnya lebih terfokus kepada konserpasi flora dan Fauna juga kelestarian hayati hutan.
“Menurut saya bertentangan dengan aturan!, Itu kan kawasan Taman Nasional, yang saya tahu kan harus lebih fokus terhadap konserpasi flora dan Fauna juga hutan,” tuturnya.

Kendati NA pun berpandangan, “boleh saja jika ada pihak ke dua yang akan mengelola Objek Wisata tersebut, asalkan terlebih dahulu lakukan musyawarah dengan masyarakat, Tokoh hingga Kepala Desa, mengingat kawasan TNGHS II yang dikelola secara komersil itu sebagian masuk ke wilayah Desa Gunungbunder II.”tandasnya

Juga menurut NA “selain tiket PNBP juga ada tiket Koperasi prodak yang juga dibuat pihak terkait, untuk nilainya saya sendiri tidak begitu tahu, namun seharusnya pengelola dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat maupun lingkungan Kawasan TNGHS II, melalui pemerintahan Desa ataupun langsung terhadap masyarakat”.ungkapnya

Namun demikian untuk menentukan nilai presentasi kontribusi untuk masyarakat sekitar NA menyarankan agar seyogyanya di musyawarah terlebih dahulu dengan masyarakat secara terbuka “untuk menentukan kontribusi berapa persenya untuk masyarakat ya… seharusnya dimusyawarahkan dulu dengan masyarakat secara terbuka, karena sebagian wilayahnya kan masuk ke peta Desa Gunungbunder 2 yang kalau menurut aturan terkait otonomi daerah semestinya kepala Desa dan warga dilibatkan,” pandangan nya

NA pun mempertanyakan, “kenapa hal tersebut tidak dilakukan hingga saat ini ? namun memang ada beberapa kelompok, yang saya nilai tidak jelas namanya, tapi koperasi ujug-ujug berjalan aja.”

Tidak berhenti disitu untuk menjawab rasa penasaranya NA pun mengkonfirmasi kepada Kepala Desa terkait kejelasan Koprasi tersebut, sebetulnya apa saja yang di dapatkan oleh pemerintahan Desa secara langsung? menurut keterangan kepala Desa yang di kutif NA”tidak pernah mendapatkan apapun” nadang menurukan Kepala Desa

Di kediaman nya Kepala Desa Gunung Bubder 2 Juanda (60)pun saat di kompirmasi mengatakan, bahwa dengan adanya pengkelolaan wisata yang di lakukan koprasi tersebut tidak berdampak positif terhadap baik perkembangan pertumbuhan ekonomi masyarakat secara langsung juga pembangunan inprastruktur Desa “hinga kina Desa belum pernah mendapatkan apaun,”ujar Kepala Desa
Bahkan kepala Desa menyampaikan pesan keraguan terhadap 2 badah hukum koprasi tersebut apakah betul sudah mendapatkan ijin sesuai aturan yang berlaku dari berbagai pihak khususnya Taman Nadional “dan untuk sementara Desa tidak akan minta/nuntut apapun, mengingat Badan hukum Koprasi dalam mengkelola wisata di wilayah taman nasional banyak tahapan yang harus di lalaui sesuai aturan hukum yang benar, kalau itu sudah dilakukan (resmi) baru kita (Desa) akan shaering dengan pengelolanya ”

Tambahnya, namun secara pribadi dirinya menyatakan tutup mata dengan adanya kegiata pengngelolaan tersebut, lantaran didalam nya pun ada adik, saudara dan juga kawan yang ikut andil dalam pengngelolaanya. (Heri)

Tinggalkan Balasan