Statistik Artikel Berita 54 views

Komoditi BSP Desa Curug Tak Sesuai Harga Pasar, KPM Diuntungkan Rp. 5,796

Bogor | newskabarnegeri.com

Penyaluran Bantuan Sosial Pangan (BSP) atau Program Sembako yang dulu disebut BPNT di Kecamatan Gunungsidur khususnya Desa Curug berlangsung Kondusif, terlihat dalam pelaksanaannya turut diawasi pihak Pemerintahan Desa, SLRT, Babinkantibmas dan Babinsa juga Tenaga Kesejahtraan Sosial Kacamatan (TKSK) sebagai Pendamping Program.

“Penyaluran kali ini untuk Bulan Juli, pagi kita salurkan untuk BSP Perluasan KKS Mandiri, siangnya BSP Leguler yang KKS BNI,” kata TKSK Gunungsindur, Sayati.

Baca Juga :  Kemisan Parungpanjang, Apa Didengar..?

Sayati juga menyampaikan bahwa komoditi yang disalurkan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), diantaranya Beras Premium 11 Kg, Jeruk 1 Kg, Telur 1 Kg dan Kacang Tanah 0,5 Kg. Semantara itu jika dilihat Sistem Informasi Harga Bahan Pokok milik Ditjen PDN Kementrian Perdagangan tercantum harga Pasar Nasional sebagai berikut.



Beras Premium Rp. 12,416/Kg, Telur Ras Rp. 26,893/Kg, Kacang Tanah Rp. 27,327/Kg dan Jeruk jika dilihat dari harga pasar sekitar Rp. 15.000/Kg, jika ditotal berdasarkan harga tersebut maka KPM diberikan harga Harga Rp. 205,796, sedangkan bantuan yang ada di KKS KPM sekitar Rp. 200,000 sehingga KPM diuntungkan Rp. 5,796.

Baca Juga :  Apresiasi Pendamping PKH Mensos Janjikan Study Banding ke Luar Negeri

Dalam kesempatan berbeda, Sekretaris Desa Curug, Sukanta, menerangkan bahwa beras yang disalurkan kepada KPM lewat Agen/e-Warong itu berkualitas Premium dengan kuantitas 11 Kg,

“Selama ini lancar-lancar saja, tapi jika ada kekurangan kita langsung komplain ke supplier langsung di ganti, kalau pun ada komplain dari KPM, seperti ada komoditi yang rusak Agen langsung mengganti,” katanya saat dihubungi newskabarnegeri.com, Rabu (15/07/2020).

Baca Juga :  Dodi Dermawan : Forum UMKM & IKM Harus Guyub

Sukanta juga berharap kualitas Komoditi dan pelayanan yang ada di e-Warong atau agen Himbara saat ini untuk tetap dipertahankan, sehingga KPM tidak dirugikan dengan komoditi yang tidak sesuai.(Randi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *