52 views

Jeritan Pilu PKL Monpera Kota Bandung

Mencari nafkah sebagai PKL adalah hal yang luar biasa, hebat dan mulia demi menafkahi keluarga daripada seorang Koruptor ataupun Penjahat dinegaranya sendiri.

Sawah ladang PKL adalah dimana tempat itu dapat dijadikan untuk bertransaksi jual beli dengan cara pada umumnya para pedagang namun terkadang PKL juga menjadikan penghambat dan merusak pemandangan indahnya kota.

Ini terjadi saat itu PKL Gasebu menjadi topik trendi bagi wisatawan domestic yang berasal dari dalam maupun luar kota bandung bahkan terkenal dengan harga murah namun barang mewah.

Pada sekitar tahun 2014 ketika Walikota dijabat oleh Ridwal Kamil salah satu untuk membuat hidup dan mewujudkan indahnya kota Parahyangan Bandung salah satunya adalah dengan menertibkan ataupun merelokasi PKL yang eksis setiap hari minggu diseputaran lapangan Gasebu untuk dipindahkan keatas mulai depan Pertamina sampai dengan belakang Monumen Perjuangan Rakyat ( Monpera) Kota Bandung Jabar .

semudah membalikkan telapak tangan untuk memindahkan PKL Gasebu maka dengan fihak terkait yang berwenang dalam tugasnya Pemkot, Pemda, Kodim, Pol PP dan Kepolisian maupun unsur lainya dalam satu ikatan Satgassus bersatu mengemban tugas yang berat menertibkan /merelokasi para PKL Gasebu dan memberikan hibah Tenda yang jumlahnya hampir seribu unit serta dibentuklah KKSM( Koperasi Konsumen Sunday Market) melalui proses yang panjang akhirnya terwujudlah semua itu.

Gedung sate dan sekitarnya clear area dari semrawut dan kemacetan lalu lintas. Namun kami sebagai PKL Monpera menyoroti dan sekaligus mengatakan bahwa upaya Pemerintah dalam merelokasi PKL adalah setengah setengah tidak tuntas terbukti di Jl. Diponegoro, Jl. Aria Jipang dan seputaran taman Lansia saat ini mulai berjamur kembali dengan bebasnya mereka PKL berjualan bahkan menggunakan mobil sehingga menutup badan jalan.

Baca Juga :  Ini 5 Rekomendasi Hasil Ijtima Ulama III

Menyikapi perkembangan saat ini sangatlah memprihatinkan dan menyedihkan Jeritan PKL Monpera karna tempat yang mereka jadikan sawah ladang dihari minggu sudah tidak ada kenyamanan lagi dan sepi pembeli sehingga omset mereka anjlok dikarenakan maraknya pungli, tipiring, penjambretan, parkir liar premanisme dan merusak Kamtibcarlantas (keamanan ketertiban kelancaran berlalu lintas) termasuk yang perlu dipertanyakan mana fungsinya Pengurus KKSM.

Menyoroti kinerja dan tanggung jawab serta peran KKSM tidak ada kontribusinya kepada PKL Monpera.Para Pengurus KKSM yang tidak mampu bekerja maupun mengemban tugas berbuat apa dan harus bagaimana dikarenakan mereka pola pikirnya sempit dalam cara berorganisaai yang mengedepankan egois, kepentingan pribadi ,satu sama lain saling merusak, dan berkarakter seperti preman , serta ketidak mampuan ataupun ketegasan seorang Ketua KKSM dalam membesarkan organisasi. Padahal namanya Koperasi andaikata Pengurusnya faham di bidangnya dan berfungsi untuk melayani PKL pasti akan berkembang dan maju dari tahun ketahun.

Dari segi tanggung jawab Pengurus KKSM terhadap PKL dan barang tidak bergerak seperti tenda saya katakan tidak ada peranya untuk mencapai sasaran tujuan berorganisasi.
Menurut saya sebagai wakil dari PKL Monpera perlu adanya penggantian sistem kepengurusan sehingga akan didapatkan permasalahan juga solusi untuk mencapai perbaikan diantaranya adalah sbb :

1.Tenda Hibah Pemkot.
Perlu dipertanyakan tentang fungsi guna dan pengoperasionalanya. Terbukti tenda hibah dari pemerintah yang jumlahnya ratusan bahkan hampir seribu unit sekarang sisa berapa? Berapa yang masih layak dan tidak layak digunakan lagi ? dimana bangkainya ? Bahkan ada indikasi besi besi itu di kilo dan dijual secara sembunyi – sembunyi pada malam hari seharga Rp 6 juta sampai Rp. 12 juta (ada sumber yang mengatakanya) lalu hasilnya dibagi bagi ke Pengurus lainya yang deket dengan Ketua.

Baca Juga :  Persami Untuk TKK TISKA Ramu Pramuka SDN Margajaya 3

Padahal tenda hibah dari pemerintah hampir 1.000,-unit. Selama ini di operasionalkan oleh Pengurus KKSM kepada para PKL. Bisa dibayangkan jika tenda yang dipasang untuk PKL saat itu dipungut biaya Rp. 20.000,-/orang X 400 unit tenda yang terpasang = Rp. 8.000.000,-/minggu dikurangi biaya pengeluaran.
Pertanyaanya sisa dananya dikemankan oleh Pengurus KKSM?

2. Alat Kebersihan.
Bantuan alat alat kebersihan berupa sapu,cangkul dan sekop pun juga pada hilang, lantas siapa yang dulu menerima barang tersebut ?

3. Oganisasi KKSM.
Namanya Koperasi Konsumen Sunday Market adalah koperasi yang harusnya menjadi wadah para PKL dalam mengatasi kesulitan dan bisa memberikan kesejahteraan pada anggotanya tapi juga tidak berjalan karena ketidak mampuan pengurus dalam berorganisasi atau ada permainan oknum Pengurus terutama bendahara dengan Ketua KKSM yang melakukan kesalahan sehingga merusak aturan dan mencoreng nama baik Organisasi KKSM yang tertera dalam AD/ART Notaris dalam lingkup Pengurus.

Hal ini perlu ditindak lanjuti dan diusut oleh Bantuan Hukum Koperasi atau pihak berwajib yang berwenang untuk mengambil sikap tegas maupun pertanggungjawaban para Pengurus selama periode 5 tahun kebelakang dalam mengelola KKSM.

Percuma ada KKSM kalau tidak dapat menyelesaikan konflik dan tindak kejahatan yang merugikan para PKL secara umum. Bahkan banyak penyimpangan yang dilakukan oleh Pengurus demi kepentinganya sendiri seperti jual beli /menyewakan lapak, memiliki lapak lebih dari 3 tempat bahkan pungutan blok dan pembuatan Kartu PKL dengan biaya mahal setiap tahun.Sumber pemasukan dana tersebut dikemanakan dan untuk apa ?

Baca Juga :  Puluhan Wartawan Dampingi Hero & Dody Penuhi Panggilan Polresta Bogor

4.Inti Jeritan PKL.
Dengan adanya virus Corona 19 ini sangat berdampak merugikan PKL Monpera dimana dilarang berjualan selama 2 pekan. Sehingga ribuan PKL Monpera kehilangan mata pencaharianya yang biasanya seminggu sekali mereka berjualan untuk menambah kehidupan dapur agar tetap ngepul. Kami menjerit karna situasi tidak seperti dulu lagi, Kami hanya bisa berdoa dan berharap memohon kepada Pemerintah Kota Bandung agar di dengar suara Jeritan kami ini untuk tetap berjualan meskipun hanya hari Mingu saja karena menyangkut tentang isi perut keluarganya.

Semoga ada solusi dari Bpk Walikota Bandung dan Bpk Gubernur Prov Jabar. Karena dengan ada nya virus Covid 19 ini PKL Monpera merasa susah untuk menafkaji keluarga meskipun pihak pemerintah sngt perhatian dengan cara Lock down pada semua warga tetapi tdk 100.persen bermanfaat pada PKL Monpera yang biasanya seiap hari minggu bisa berjualan.

Namun dengan adanya Lock Down dari pemetintah ada segi positif dan negatif nya bagi mereka akan tetapi jeritan PKL lebih bnyk mengarah dan memohon agar ada solusi dari pemerintah.Mudah mudahan jeritan para PKL Monpera ini akan di dengar dan di beri solusi oleh Pemerintah agar dapat berjualan kembali di hari Minggu karena menunggu sampai batas waktu Covid 19 mereka tidak membetilan nafkah pada kekuarganya, Semoga jeritan meteka di dengar oleh Pemerintah Amin yarabbal alamin.

Penulis : Andi Nenie Srilestari S.Pd,M.Si
(Ketua DPD LSMP Norwangsanegara Prov Jabar)

Bandung, 22 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *