908 views

BERSAMA ‘INDONESIA’S LOCAL WISDOM’ MENCIPTA ‘SMART DIGITAL NATIVE’

Keberadaan era disrupsi dan industri 4.0 membawa generasi muda kepada revolusi aktivitas di semua bidang. Informasi hadir memenuhi setiap aktivitas dengan cepat, seiring perkembangan sistem teknologi informasi. Transformasi global industri internet memberikan ruang kepada pergerakan informasi berpindah dengan cepat dan semakin luas secara horisontal. Informasi dalam ruang internet tidak hanya bergerak secara vertikal untuk satu hal, melainkan bergerak semakin cepat dengan berbagai bentuk varian dan dimanfaatkan pada berbagai hal. Seperti: informasi di pasar komersil. Pergerakan informasi semakin cepat berpindah menawarkan produk barang atau jasa dari produsen ke konsumen secara online. Kemudian sebaliknya, informasi kebutuhan konsumen tersampaikan dengan cepat kepada produsen melalui aplikasi pesan ‘e-commerce’. Pesan tersampaikan secara instan dengan mengandalkan ruang internet berbasis aplikasi pesan ke area marketing. Jadi tidak hanya sebatas ‘chatting’. Ada teknik dan strategi tertentu untuk mencapai target audiens sebagai tujuan.

Perangkat-perangkat pintar dengan pemanfaatan teknik tertentu dibangun dalam ruang internet sebagai bagian dari strategi aktivitas komersial, berupa: rumah pintar ‘smart home’ untuk mengontrol kualitas aktivitas penghuni dari jarak jauh, monitor konektivitas mobilisasi secara privasi, fitur aplikasi media sosial yang terintegrasi sebagai media promosi, semakin memenuhi pasar komersil. Mereka fokus kepada konsumen sebagai audiens, prestasi hasil dan nilai yang diperoleh. Itu semua, memperlihatkan kecepatan informasi telah memberikan perubahan besar pada kondisi bisnis yang terus bergerak maju ke arah skala besar. Kondisi ini, menuntut ketersediaan individu sebagai tenaga produktif dengan kepemilikan ide-ide cemerlang yang kompeten memanfaatkan kehadiran sistem teknologi informasi tertentu. Hal itu, sekiranya mendorong kehadiran ICT (Information and Communication Technology) menjadi subjek penting di berbagai jenjang pendidikan.

ICT mulai diperkenalkan secara formal dari mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Tentu diperlukan tenaga-tenaga pendidik handal terutama guru, untuk dapat mentransfer ilmu pengetahuan di bidang ICT dengan baik dan benar kepada seluruh peserta didik. Handal artinya mereka tidak hanya menguasai bidang keilmuan ICT secara teoretis berikut cara pengaplikasiannya dengan baik, tetapi juga harus mampu membangun kepribadian perilaku siswa ke arah yang benar sesuai kearifan lokal Indonesia. Penempatan kearifan lokal Indonesia yang dijunjung tinggi sebagai ‘Indonesia’s local wisdom’ dalam aktivitas ICT merupakan potensi utama guna menciptakan ‘Smart digital native’. Kehadiran informasi bersifat ‘Hoaks’ sebagai latar belakang masalah, semakin menempatkan penciptaan ‘Smart digital native’ bersama ‘Indonesia’s local wisdom’ pada posisi penting, yaitu: Individu dengan kepemilikan kompetensi ide pemanfaatan ICT dalam bentuk kepribadian perilaku ke arah kedudukan kebenaran positif secara tepat. ‘Hoaks’ sendiri, memperlihatkan pergerakan informasi dengan kecenderungan pergerakan yang cepat, liar, menyesatkan, dan bergeser dari kebenaran. Hal itu, sudah tentu menjadi tantangan utama bagi ‘Smart digital native’ untuk mampu membendung, menyaring dan mengemas pergerakan informasi menjadi berbalik arah ke arah kebenaran positif. Informasi dikemas menjadi ide-ide cemerlang berbasis ‘local wisdom’ penuh manfaat bagi target audiens secara berkelanjutan.

Beberapa tokoh Indonesia mempertegas pentingnya kearifan lokal untuk terus ditanamkan di berbagai kesempatan sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur membangun kepribadian individu. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh: 1) Mendikbud atau sekarang ini sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (kemenkopmk.go.id) Muhadjir Effendy saat berbicara soal pelestarian budaya Indonesia di Istora Senayan, Jakarta (detiknews, 8 Oktober 2019). Beliau memberikan pandangan dengan mengangkat kembali konsep Trisakti yang telah dirancang oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno bahwa, “Trisakti yaitu daulat di dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian di dalam budaya”. Pandangan tersebut menegaskan bahwa kepribadian tidak terlepaskan dari budaya. Di mana, kearifan lokal itu sendiri memperlihatkan bentuk budaya yang berupa bentuk pengetahuan, keyakinan, wawasan, adat kebiasaan, dan etika. Bentuk-bentuk itu mencerminkan kebenaran untuk menuntun perilaku manusia di dalam sekumpulan komunitas.; 2) Menteri Sosial atau sekarang sebagai Menteri Perindustrian (kompas.com, 23 Oktober 2019) Agus Gumiwang Kartasasmita saat acara Deklarasi Anti Hoaks Pilar-pilar Sosial di Jakarta memaparkan manfaat mempertahankan kearifan lokal, “Di era Revolusi Industri 4.0 menjadikan kehidupan yang lebih positif, untuk itu harus cepat beradaptasi dengan kecanggihan teknologi yang sedang berkembang pesat tapi tetap dengan menguatkan kearifan lokal dan jati diri bangsa di tengah kehidupan masyarakat” (kominfo, 28 Februari 2019). Beliau berpandangan bahwa kehidupan di era Revolusi Industri 4.0 akan menjadi lebih positif adalah dengan cara memperkuat kearifan lokal secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Berdasarkan pandangan dari kedua tokoh tersebut, dapat dilihat kembali bahwa ‘Indonesia’s local wisdom’ memiliki kedudukan penting dan peranan besar dalam membawa generasi muda sebagai sumber daya manusia handal di tengah arus informasi. Arus yang membawa informasi ke dalam distribusi barang atau jasa pada berbagai bidang kehidupan. Hal itu tentu harus mampu mengarahkan arus informasi kepada bidang kehidupan positif. Beberapa tindakan nyata harus mampu diupayakan untuk menghadirkan kekuatan kearifan lokal atau ‘local wisdom’ pada diri individu hingga mampu menampilkan bentuk budaya secara nyata. Individu ‘Smart digital native’ sebagai sumber daya manusia penggerak arus informasi di dunia digital harus memiliki potensi membendung ‘hoaks’. Mereka harus memiliki keterampilan melihat, memilih, dan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang berada pada ruang digital pada posisi tepat. Hal itu harus sesuai dengan wawasan pengetahuan yang diyakini dapat memberikan kebaikan, manfaat, dan benar tanpa melanggar adat kebiasaan dan etika bangsa Indonesia untuk kemudian dibawa ke dalam sebuah kehidupan positif.

Generasi muda di usia produktif tentu menjadi potensi penggerak utama untuk menampilkan bentuk nyata dari kearifan lokal. Apa yang mereka tampilkan, tentu harus melalui proses pendidikan untuk mencapai peningkatan keterampilan ICT sesuai dengan jenjang pendidikan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius, mengajak mahasiswa sebagai generasi muda untuk dapat menyaring informasi sebelum dibagikan ke orang lain. Beliau menegaskan bahwa, “menyaring informasi merupakan sikap yang dapat mengurangi tersebarluasnya berita bohong dan konten propaganda radikal terorisme” (Republika, 23 Agustus 2019). Sisi lain, Imam besar masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar turut serta memberikan penjelasan terkait aktivitas radikal bahwa, “Kearifan lokal dapat menjadi cara ampuh menangkal radikalisme. Karenanya, masyarakat Indonesia perlu memperkuat kearifan lokal tersebut” (Republika, 26 Januari 2019).

Apa yang disampaikan Kepala BNPT dan KH Nassaruddin, semakin memperlihatkan pentingnya penerapan ‘kearifan lokal’ perlu dilaksanakan secara sungguh-sungguh terutama dalam aktivitas ICT. Hal itu guna menciptakan ‘Smart digital native’ yang memiliki kekuatan ‘Indonesia’s local wisdom’ dengan menampilkan bentuk budaya secara nyata dan berkelanjutan. Kehadiran ‘Smart digital native’ dapat memberikan tiga langkah manfaat yaitu: 1) Kepribadian individu berada dalam budaya nyata. Bentuk wawasan pengetahuan memiliki keyakinan kebenaran sesuai adat istiadat dan etika, 2) Keterampilan melihat, memilih, dan memanfaatkan sumber-sumber informasi di ruang digital untuk bidang kehidupan positif, 3) Creator ide-ide cemerlang berbasis ‘local wisdom’. Ide untuk mengemas informasi ke arah kebenaran positif.

Aktivitas nyata untuk mewujudkan ‘Tiga langkah manfaat’ dari ‘Smart digital native’, adalah dengan menghadirkan tenaga pendidik handal dalam penguasaan ilmu pengetahuan di bidang ICT yang berkemampuan menciptakan ‘Smart digital native’. Ada kehadiran ‘Indonesia’s local wisdom’ yang dibentuk ketika menampilkan bentuk wawasan pengetahuan bersama keterampilan ICT dan kebenaran keyakinan terhadap adat istiadat serta etika pada lingkungan sosial positif. Tenaga-tenaga pendidik pada bidang ICT yang berada di berbagai tingkat pendidikan, dan dimulai pada tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi sudah seharusnya secara bersama menciptakan ‘Smart digital native’ guna mencapai ‘tiga langkah manfaat’ sebagai solusi memutar arah informasi dalam arus arah informasi positif, baik secara vertikal dan horisontal. Tentu, bentuk hasil ‘tiga langkah manfaat’ memiliki kesesuaian dengan tingkat pendidikan ‘Smart digital native’. Contoh: cara pandang adat istiadat dan etika ‘Smart digital native’ pada tingkat Sekolah Dasar tentu berbeda dengan ‘Smart digital native’ pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Hal itu khususnya, ketika mereka dihadapkan pada konsep salah-benar, baik-buruk, dan arti tanggung jawab akan sebuah kondisi. Wawasan pengetahuan dan konsep yang dimiliki, bergerak, berkolaborasi memutar arah informasi untuk dapat diterapkan dalam lingkungan sosial mereka secara positif. Keduanya tetap memiliki satu tujuan yang sama, yaitu terciptanya ‘Smart digital native’ dengan kekuatan ‘Indonesia’s local wisdom’.

Potensi memutar arah informasi menjadi bentuk perilaku positif dalam lingkungan sosial ‘Smart digital native’ tentu menjadi berbeda pada setiap tingkat pendidikan. Penciptaan ‘Smart digital native’ sudah tentu harus segera dilakukan, mengingat keberadaan ‘informasi melalui komunikasi digital’ sudah diterapkan dalam proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah. Hal itu sebagaimana program Kemendikbud dengan menyiapkan 2 juta tablet untuk menunjang proses belajar-mengajar berbasis digital di 36 ribu sekolah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan lebih lanjut bahwa, “Digitalisasi sekolah juga harus didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang menguasai teknologi informasi terutama kepada tim pengajar” (detiknews, 17 September 2019).

Tim pengajar yang terdiri dari guru pada tingkat pendidikan sekolah dan dosen pada tingkat perguruan tinggi di bidang ICT, tidak hanya cukup mendapatkan pelatihan teori dan keterampilan terkait ICT. Ada kekuatan ‘Indonesia’s local wisdom’ penting diterapkan ke dalam program pengembangan wawasan pengetahuan bidang ICT. Keberadaan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan memiliki potensi dan posisi strategis untuk mencetak guru-guru handal dengan kepemilikan kemampuan menciptakan ‘Smart digital native’ dan turut mensukseskan ‘Tiga langkah manfaat Smart digital native’.

Beberapa upaya untuk memperlihatkan contoh bentuk nyata dari ‘tiga langkah manfaat Smart digital native’ penulis telah melakukan beberapa kegiatan berupa studi lapangan di salah satu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yaitu: program studi pendidikan bahasa Inggris STKIP Kusumanegara Jakarta pada mata kuliah ICT for teaching English. Ada tiga hasil yang dikembangkan secara bertahap: 1) Hasil studi lapangan pada mata kuliah ICT for teaching English di lingkungan kampus, kemudian diaplikasikan di beberapa lokasi komunitas sosial dalam bentuk pengabdian masyarakat, 2) Hasil pengabdian kemudian dipublikasikan dan dipresentasikan di beberapa kesempatan acara seminar atau konferensi Internasional, dan 3) Hasil publikasi dengan mengangkat wawasan pengetahuan pendukung berbasis budaya, digunakan sebagai evaluasi lanjutan pada mata kuliah ICT for teaching English. Ketiga pengembangan hasil di atas, bertujuan untuk menghasilkan calon tenaga pendidik yang dapat menciptakan ‘tiga langkah manfaat Smart digital native’ kepada peserta didik.

Contoh bentuk nyata ‘tiga langkah manfaat Smart digital nativedalam aktivitas ICTdapat dilihat melalui aktivitas penyampaian argumen yang ditulis melalui ‘email’. Argumen merupakan bentuk pernyataan yang disampaikan yang disertai alasan yang diyakini kebenarannya oleh penyampai pesan. Ada beberapa sudut pandang yang disampaikan secara detail untuk menjadi perhatian yang memiliki relevansi dengan alasan yang telah disampaikan sebelumnya. Tentunya hal itu memiliki potensi persuasif agar seseorang memiliki kemampuan berpikir secara kritis. Studi dokumen di lapangan berupa ‘email’ dengan mengangkat satu topik yang ditulis oleh mahasiswa tahun akademik 2015/2016 sebagai calon pengajar pada mata kuliah ICT for teaching English untuk kemudian dianalisis. Hal itu dapat memperlihatkan bentuk nyata dari ‘tiga langkah manfaat Smart digital native’. Yaitu: 1) Kepribadian individu sebagai calon pengajar berada dalam budaya nyata teknologi. Hal itu terlihat melalui wawasan pengetahuan yang disampaikan melalui ‘email’ sebagai bentuk pemanfaatan sistem teknologi informasi. Pesan berupa argumen yang disampaikan melalui email dapat dilihat derajat interaksi yang dibangun oleh mahasiswa calon pengajar. Derajat interaksi menjadi penunjuk kesesuaian nilai-nilai kebenaran yang diyakini oleh mahasiswa calon pengajar dengan adat istiadat dan etika di lingkungan mereka., 2) Keterampilan melihat, memilih, dan memanfaatkan sumber-sumber informasi di ruang digital tercermin melalui pergerakan derajat interaksi antara subjek dan objek yang melibatkan verba ke dalam bidang kehidupan positif, dengan mengedepankan nilai-nilai manfaat 3) Mahasiswa calon pengajar menjadi ‘creator’ ide-ide cemerlang berbasis ‘local wisdom’ ketika mereka mengemas ide dalam pesan berupa argumen untuk dibawa ke arah kebenaran positif.

Pengambilan contoh pesan argumen melalui ‘email’ di atas, menunjukkan hasil analisis pada derajat interaksi berbeda. Gambaran derajat interaksi yang berbeda secara sederhana dapat dilihat melalui contoh pesan argumen yang ditulis oleh 2 mahasiswa calon pengajar, sebagai berikut:

Mahasiswa 1 (AM1),

 “To be a professional teacher, we should know how to use technology and we should have knowledge about technology, but how if we don’t have?. We must take training to use technology in ELT”.

Mahasiswa 2 (AM2),

“To be a professional teacher is we must have the time and resource to develop professionally by taking advantage of online courses in teacher education and general secondary and primary education, one of the more remarkable success stories have been the uptake of interactive white boards (IWBs)”.

Contoh kedua argumen di atas memperlihatkan mahasiswa 1 dan 2 memberikan argumen terkait topik yang sama yaitu: ‘To be a professional teacher’. Keduanya menempatkan ‘professional teacher‘ sebagai subjek dengan derajat interaksi berbeda. Mahasiswa 1 memperlihatkan peran ‘experiencer’ yang berinteraksi dengan objek ‘the technology’, ‘the training’ dan ‘technology knowledge’. Ada rasa yang dihadirkan secara khusus dan memberikan pengaruh terhadap proses mental terkait ketiga objek tersebut. Mahasiswa 2 memperlihatkan peran ‘Beneficiary’ yang berinteraksi dengan objek ‘online courses’. Ada manfaat dari tindakan yang dilakukan melalui kegiatan kursus secara online.

Jadi dari kedua argumen di atas, dapat terlihat Mahasiswa 1 berupaya menghadirkan rasa untuk dapat memberikan pengaruh dan Mahasiswa 2 berupaya menghadirkan manfaat untuk dapat menimbulkan tindakan. Keduanya membangun argumen dengan menghadirkan derajat interaksi berbeda antara subjek dan objek. Ada budaya teknologi yang di bawa ke arah kebenaran positif. Mahasiswa 1 berupaya memberikan rasa pengaruh positif dan Mahasiswa 2 berupaya memberikan manfaat tindakan positif. Ada ruang ELT (English Language Teaching) yang dibawa Mahasiswa 1 dan IWBs (Interactive White Boards) yang dibawa Mahasiswa 2 sebagai gambaran wawasan yang mereka miliki. Keduanya sebagai bentuk wujud kebenaran positif yang mereka yakini. Budaya teknologi dibawa ke dalam ruang digital dengan benar tanpa melanggar aturan dan kebiasaan, yaitu melalui aktivitas training dan online courses. Penciptaan ‘Smart digital native’ bersama ‘Indonesia’s local wisdom’ pada akhirnya tidak bisa ditunda dan menjadi program bersama untuk bisa dilaksanakan dengan sungguh-sungguh demi keberlangsungan kualitas generasi muda penerus bangsa Indonesia. (Vera Yulia Harmayanthi, Dosen dan Mahasiswa S3 Program Linguistik Universitas Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *