102 views

Menguak Polemik KIP

Bogor, Kabar Negeri

Program Indonesia Pintar (PIP) menuai banyak polemik salah satunya keluhan masyarakat penerima manfaat yang merasa program yang dijanjikan pemerintah tersebut hingga kini tidak tersalurkan dengan baik dan benar, contohnya di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di wilayah Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan. Orang Tua Siswa di SDN tersebut menyampaikan sedari awal mendapatkan Kartu Indonesia Pintar, anaknya hanya mendapatkan sebuah Kartu,saat itu anaknya duduk di kelas 3. hingga Kelas 1 SMP anaknya baru 1 periode mendapatkan pencairan dari PIP tersebut.

Namun saat di Kompirmasi 21 Mei 2019 Pukul 09.25 WIB Kepala Sekolah SDN tersebut menyampaikan ke tidak tahuan adanya Program tersebut dihadapan 2 orang Tenaga Pengajar dan 1 orang Tenaga Pembantu Sekolah, Sepengetahuan dirinya bahwa Program Indonesia Pintar di sekolah yang ia pimpin tidak berjalan sedari awal hingga kini. Adapun program yang hingga kini berjalan menurut nya adalah bantuan langsung tunai, teknis pencairan nya dilakukan oleh pihak sekolah yang sebelumnya melalui proses persyaratan dan di distribusikan ke siswa penerima mangfaat.



Kendati demikian kepala sekolah menyarankan kepada wartatawan, untuk lebih jelasnya kaitan program tersebut agar menayakan kelanjutan program tersebut langsung kepada operator sekolahnya yang dianggap lebih mengikuti infirmasi teranayar.

Baca Juga :  Pembangunan Irigasi, Keberpihakan Pemerintah Desa Sukawening Pada Petani

Ada yang berbeda disampai operator sekolah saat di Kompirmasi Jumat, 24 Mei 2019 Pukul 14.25 WIB di samping kantor Kecamatan Pamijahan terkesan tudingan kepala sekolah lempar batu sembunyi tangan, dengan mengatakan “tidak mungkin Kepala Sekolah tidak mengetahui program PIP,karena Program ini berjalan sudah berapa tahun, namun dirinya minta dimaklum karena Kepala Sekolah sudah sepuh dan mungkin Kepala Sekolah lupa”.

Dilain hal dirinya akui bahwa sekolah memang mengkelola, dengan dalih membantu dan memfasilitasi dengan alasan masyarakat lokal tidak faham dengan cara nontunai, sehingga pada saatnya terjadi kesalahan dan menurutnya kegiatan itu pun legal karena didasari surat persetujuan dari Kepala Koordinator Pendidikan Kecamatan no. 421/141 upt tahun 2017 yang poin intinya surat tersebut adalah dengan mempertimbangkan lokasi keberadaan sekolah di tempat terpencil sehingga BRI sulit mengakses, mulai dari tingkat SD/MI,SMP/MTS hingga SMK bahwa PIP dapat dikordinir oleh sekolah. Hal itu menjadi penting,sehingga jurnalis… mendorong agar operator dapat membuktikan pernyataan nya di dasari bukti. Namun saat itu dirinya tidak membawa alat bukti tersebut sehingga menjanjikan waktu dan tempat untuk kompirmasi di sekolah langsung tanggal 26 mei 2019 hari Selasa. Tiba saat nya kami pun mencoba lakukan komunikasi lewat media sosial WhastApp dengan tujuan menayakan kepastian,namun tak kunjung ada balasan.

Baca Juga :  Presiden Berkisah Soal Perjuangan RI Ambil Alih Pengelolaan Blok Tambang dari Asing

28 Mei 2019 akhirnya yang dinatikan dapat lakukan komunikasi dengan yang bersangkutan, namun cukup mengejutkan mengingat kabar melalui pesan WhatsApp di sampaikan “bahwa Kepala Sekolah masih ada kegiatan dan sekolah juga sudah mulai tidak aktif karena libur idul fitri dan disambung libur akhir tahun pelajaran. Tetapi Operator mengakui bahwa dirinya sempat ngobrol dengan Kepala Sekolah, menurutnya pada dasarnya ia memahami keinginan atau harapan jurnalis , sehingga pihak Operator menjanjikan untuk bertemu dirinya kembali untuk mewakili kepala sekolah.

Dirinya juga menyampaikan “sebenernya keterangan yang tempo hari ia sampaikan lebih dari cukup untuk bahan informasi, dirinya juga menilai hal tersebut juga pasti dapat di temukan di sekolah-sekolah lain. Yang menarik dalam pesan WhatsApp tersebut dirinya mengatakan, “Kesimpulannya, kalo akang mau ketemu mangga besok saya ada waktu, kita janjian dimana, tapi klo bisa jangan banyakan teuing kayak kemaren, Ntar kueh nya ga cukup gimana?,” katanya.

Baca Juga :  Korem 061/Suryakancana, Persit Koorcab Rem 061 PD III/Siliwangi & Goethe Institute Nonton Bareng Pelajar

Ternyata seusai bertemu dengan Operator, pihak Operator memberikan Amplop yang entah berisi apa, yang hingga saat ini jurnalis, masih belum membuka Amplop tersebut, sehingga tim berasumsi bahwa itu merupakan sogokan atau suap yang diberikan agar pemberitaan tidak perlu di publikasikan.

Hal yang sama juga terjadi di salah satu yayasan di wilayah Ciampea, tidak tanggung puluhan orangtua siswa mengadukan hal serupa kepada Jurnalis, namun perwakilan Yayasan saat di kompirmasi terkait kelancaran pendistribusian PIP menyampaikan, di yayasannya program tersebut tidak ada hambatan alias lancar, dikarnakan program tersebut ditujukan langsung ke rekening si penerima mangfaat.

Dirinya juga menilai sebetulnya kelancaran PIP tergantung pengelolanya Amanah atau tidak, bahkan dirinya menclaim pihaknya menjalankan PIP dengan Amanah. “Mengingat satuhal pesta pasti Akan berakhir, saat pesta berakhir berati kan mati atau wafat, saat itu lah bagai mana kita akan mempertanggung jawabkan ke sang kholik, Karena semua aktifitas ini tentunya akan di pertanggung jawabkan,” pungkasnya.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *